Menganalisis Unsur-Unsur Instrinsik Novel Indonesia/Terjemahan
Membaca mempunyai pengertian yang beragam. Ada yang rumusannya panjang dan ada pula yang pendek. Penyebabnya pun bermacam-macam. Berikut beberapa contoh pengertian membaca:
1. Membaca adalah proses mengenali makna simbol tertulis
2. Membaca adalah proses melisankan bahasa tulis
3. Membaca adalah kegiatan mempersepsi aturan tertulis untuk menangkap makna yang dikandungnya
4. Membaca adalah proses berpikir dan bernalar
5. Membaca adalah penerapan seperangkat keterampilan kognitif untuk memperoleh pemahaman dari tuturan yang tertulis
6. Membaca adalah proses pengolahan bacaan secara kritis-kreatif yang dilakukan pembaca untuk memperoleh pemahaman menyeluruh tentang bacaan itu, yang diikuti oleh penilaian terhadap keadaan, nilai, fungsi, dan dampak bacaan itu.
Sastra merupakan suatu kegiatan kreatif sebuah karya seni. Selain itu, sastra juga merupakan karya imajinatif yang dipandang lebih luas pengertiannya dari pada fiksi (Wellek dan Werren, 1993:3-11). Sebuah karya sastra mencerminkan berbagai masalah kehidupan manusia dalam interaksinya dengan lingkungan, sesama manusia, dan dengan Tuhannya. Walaupun berupa khayalan, bukan berarti bahwa karya sastra dianggap sebagai hasil khayalan saja, melainkan penghayatan dan perenungan yang dilakukan dengan penuh kesadaran. Karya sastra erupakan sebuah karya imajinatif yang dilandasi kesadaran dan segi kreatifitas sebagai karya seni.
Novel merupakan salah satu ragam prosa di samping cerpen dan roman selain puisi dan drama, di dalamnya terdapat peristiwa yang dialamioleh tokoh-tokohnya secara sistematis serta terstruktur. Hal ini sejalandengan pemikiran (Sudjiman, 1990: 55) yang menyatakan bahwa Novel adalah prosa rekaan yang panjang, menyuguhkan tokoh-tokoh, dan menampilkan serangkaian peristiwa dan latar belakang secara terstruktur.
Unsur-unsur instrinsik:
1. Tokoh dan Penokohan
Tokoh cerita (character) menurut Abrams (dalam Nurgiyantoro 2000: 165)
adalah orang-orang yang ditampilkan dalam karya naratif, atau drama yang oleh pembaca ditafsirkan memiliki kualitas moral dan kecenderungan tertentu seperti yang diekspresikan dalam ucapan dan apa yang dilakukan dalam tindakannya.
(2) Latar
Abrams (dalam Nurgiyantoro 2000: 216) yang menyebut latar sebagai landatumpu, menyaran pada pengertian tempat, hubungan waktu, dan lingkungan sosial empat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan.
(3) Tema
Tema berasal dari kata “thema” (Inggris) ide menjadi pokok suatu pembicaraan, atau ide pokok suatu tulisan. Tema merupakan omensional yang amat penting dari suatu cerita, karena dengan dasar itu pengarang dapat membayangkan dalam fantasinya bagaimana cerita akan dibangun dan berakhir. Dengan adanya tema pengarang mempunyai pedoman dalam ceritanya pada sasaran. Jadi tema adalah ide sentral yang mendasari suatu cerita (Zulfahnur 1996: 24).
(4) Alur
Salah satu elemen terpenting dalam membentuk sebuah karya fiksi adalah plot cerita. Dalam analisis cerita, plot sering pula disebut alur, yakni cara pengarang menjalin kejadian-kejadian secara beruntun dengan memperhatikan hukum sebab akibat sehingga merupakan kesatuan yang padu, bulat dan utuh (Suharianto 1982 : 28)
(5). Sudut pandang adalah
cara pengarang atau pandangan yang dipergunakan pengarang sebagai sarana untuk menyajikan tokoh, tindakan, latar, dan berbagai peristiwa yang membentuk sebuah karya fiksi.
- pengalan novel “Sebatang Kara” Karya Hector Melot
Sampai waktu itu masih menjadi pikiran juga bagi saya, apa gerangan yang diturut bapak Barberin pergi ke Paris. Sebab orang itu sangat menakuti saya, maka pikiran saya sudah buruk-buruk saja.
Sudah barang tentu Bapak Barberin mencari Vitalis ke Paris, akan meminta unag sewa beberapa tahun atas diri saya, demikianlah dugaan saya. Tapi kalau benar demikian, sia-sialah ia berjalan jauh, karena Vitalis sudah mati, sedang saya sendiri tidak mempunyai kewajiban akan membayar uang sewa atas diri saya kepada Bapak Barberin. Tapi kalau Bapak Baberin tidak mendapat uang sewa, tentu akan diambilnya saya kembali, dan dipersewakannya pula kepada orang lain. Mengingat hal itu kecutlah hati saya rasanya, tapi sementara itu pulalah pikiran saya akan melakukan segala daya upaya itu. Kalau perlu sukalah saya lari dari tanah perancis, dan pergi bersama Mattia ke Italia, atau sampai keujung bumi pun.
Pikiran-pikiran itulah yang saya kandung sampai kepada saat berhadapan dengan ibu Barberin di belakang Mattia, oleh sebab itu maksud saya hati-hati benar, apabila berkata-kata dengan ibu Barberin.
Orang tua itu tidak guna saya takuti, karena ia cukuplah sayang dan kasihan kepada saya, akan tetapi ia sangat takut akan lakinya, sebagi dahulu saya sudah saksikan. Kalau saya sudah terlalu banyak bercerita, boleh jadi Ibu Barberin nanti dipaksa oleh lakinya menceritakan kemana saya pergi, dan sebab takutnya pasti diceritakannya, hingga bapak Barberin dapat mencari dan merampas saya sebagai miliknya.
Setelah Mattia sampai keluar, maka berkatalah saya kepada Ibu Barberin, “sekarang kita tinggal berdua saja. Sukalah ibu menceritakan apa perlunya bapak Barberin pergi ke Paris?”
“sudah tentu ibu suka menceritakannya Remi!”
Sambil berkata demikian memandanglah ia sejurus ke pintu, seolah-olah hendak menyaksikan benar-benar, bahwa Mattia sudah keluar. Maka dihampirinya saya, lalu berkata dengan suara lembut, “Rupanya kaum keluargamu sedang mencari engkau .”
“kaum keluarga saya.”
“ya, kaum keluargamu, Remi?”
“Adakah saya kaum keluarga? Mustahil! Bukankah saya anak terbuang?”
“Rupanya tidak sengaja kaumu membuang engkau, Karena sedang dicarinya.”
“siapakah yang mencari saya? O, ceritakanlah semua ibu!”
Seketika itu perasaan saya seperti hendak menjadi gila, lalu berseru,” mustahil ada kaum kelurga saya. Tidak, bapak barberin yang mencari saya!”
“benar sekali bapak Barberin yang mencari saya!”
Benar sekali bapak Barberin yang mencari engkau, tapi karena permintaan keluargamu.”
“tidak , karena kemaunnya sendiri, supaya dia boleh menjual atau menyewakan diri saya lagi. Tapi tidak sekali-kali ia berkuasa atas diriku!”
“Oh, Remi! Percayakah engakau, yang ibu akan turut berlaku yang busuk itu, kalau benar bapak Barberin ada hendak memperdayakan dirimu?”
“ibu pun ditipunya!”
“Remi, sabarkanlah hatimu! Dengar dahulu cerita ibu, nanti engkau tentu akan percaya kepada ibu. Kira-kira sebulan ke belakang sedang saya di kebun, datanglah seorang ke rumah ini, lalu bertanya kepada bapak Barberin, yang waktu itu duduk di dalam rumah”, “Engkau yang bernama Barberin?”
“Ya, sahutnya, “saya Barberin.”
“Engkaulah yang mendapat anak di Avenue de Bretuil, lalu engkau pelihara?”
“Ya.”
“Di manakah anak itu sekarang?”
Barberin menyahuti pertanyaan itu, dengan pertanyaan pula, katanya, “Bolehkah saya bertanya, apa sebab tuan dating menyelidiki hal itu kemari?”
“Engkau tahu Remi, kalau orang berkata-kata di dalam rumah, terdengar keluar, apabila pintu dibuka; oleh karena namamu yang disebut-sebut, lalu saya hampiri pintu, dan ibu pasang telinga benar-benar, supaya tidak ada satu patah kata dari percakapan di dalam yang terdengar oleh ibu. Tapi malang benar, sebagai menghampiri pintu itu, maka ibu sudah menginjak sekerat ranting yang sudah remuk dibawah kaki.
“Rupanya di luar ada orang,” demikian ibu dengar suara orang dating itu.
“istri saya di luar, “sahut bapak Barberin.
“panas sekali dalam rumah. Marilah kita berjalan-jalan, sambil bercakap-cakap!”
Maka keluarlah mereka keduanya; empat jam kemudian barulah bapak Barberin pulanng ke rumah, tapi orang itu tidak kelihatan lagi. Sudah tentu ibu hendak mengetahui yang dibicarakan oleh bapak Barberin dengan orang itu, tapi bapak Barberin tidak suka menceritakan kepada ibu. Yang ibu ketahui, hanyalah, bahwa orang itu bukan ayahmu, melainkan orang suruhan keluargamu mencari engkau.”
“Di manakah kaum keluarga saya itu? Adakah saya berayah Bunda?”
“Ibu pun bertanya demikian pada bapak Barberin, tapi ia berkata tidak mengetahui. Katanya, ia hendak pergi ke Paris mencari tukang music tempat engkau di sewakannya dahulu. Tukang music itu sudah menulis surat kepadanya, bahwa engkau boleh dicari di kota Paris, di jalan Roureine, di rumah seoarang kawannya bernama Gorofoli. Kedua nama itu ibu ingat-ingat benar. Janganlah engkau melupakannya!”
“Kedua nama itu sudah saya kenal. Tidak menulis suratkah bapak Barberin sejak ia berangkat itu kepada ibu?”
“Tidak, rupanya ia masih mencari engkau. Tuan yang menyuruhnya itu sudah memebri uang kepada bapak Barberin lima puluh rupiah, sesudah itu tentu banyak lagi uang yang dikirimnya. Kalau dipikirkan uang sebanyak itu, diingatnya pula kain pembedung engkau waktu ibu mendapat engkau, maka yakinlah ibu, bahwa orang tuamu orang hartawan. Tatkala ibu masuk rumah, dan melihat engkau sudah bertemu dengan kaum keluargamu. Itulah sebabnya ibu bertanya, barang kali Mattia adik kandungmu.”
Pada waktu itu kelihatan Mttia melitas, lalu saya panggil masuk.
“Mattia!” kata saya, “ibu dan bapak saya sedang mencari saya. Jadi saya pun ada berkaum keluarga!”
“Heran sekali, apa sebab Mattia tidak serta bersuka cita dengan saya.
“Maka saya ceritakanlah kepadanya apa yang terdengar dari mulut ibu Barberin.
Sumber: Novel Sebatang Kara, 2000.
Hasil Analisis:
- Hal yang menjadi dasar cerita ini adalah Perasaan takut tokoh saya (Remi) dalam menghadapi sikap Bapak Barberin.
- Latar tempat berlangsungnya cerita terjadi di Avenue de Bretuil (Prancis), Rumah Bapak Barberin, Kebun/taman rumah Ibu Barberin.
- Tokoh dalam novel itu diantaranya adalah Tokoh saya (Remi), Bapak Baeberin, Ibu Barberin, dan Mattia.
- Alur yang digunakan adalah alur maju.
- Sudut pandang yang digunakan Sudut pandang orang Pertama (Aku/saya).
TUGAS!
- Analisislah Unsur Instrinsik sebuah Novel yang pernah kamu baca sesuai dengan penjelasan diatas!
- Kumpulkan tugas tersebut pada wordpress saya : www.Yuliharianti.wordpress.com sebelum ujian akhir sekolah dimulai!